Our Caring Team

TUHAN SAYANG SAYA

Sepuluh Tahun Rasakan Pegal Di Pundak Dan Nyeri Di Belikat Sebelah Kiri 


Tak ada yang menyangka, wanita berperawakan mungil Yetty A. De Fretes sanggup menahan sakit akibat kecepit saraf leher atau Spondilosis Cervical selama lebih sepuluh tahun. Pengusaha yang menetap di Kota Surabaya ini sudah lama merasakan pegal di pundak dan nyeri di belikat sebelah kiri. Dalam kurun waktu itu pula ia berusaha tidak menghiraukan, maklum kesibukannya di perusahaan shipping sangat banyak menyita waktu. “Saya kira kecapaian saja,” duganya Sehari-hari Yetty yang akrab dipanggil Jolly Burhan, merupakan leader di perusahaan shipping sangat menuntut stamina prima. Bagaimana tidak, berangkat kerja pukul 09.00 hingga pukul 22.00 WIB sudah dilakoni ibu tiga putra ini sekitar lima tahun. Rasa pegal yang sering datang cenderung diabaikan agar tidak menjadi halangan dalam bekerja.

Dua bulan sebelum dilarikan ke rumah sakit, Yetty merasakan nyeri di pundak semakin parah, kadang terasa sampai dada kiri yang diikuti dengungan di telinga. Rasa sakit itu mencapai puncaknya pada suatu pagi ketika ia hendak berangkat kerja. Saat itu, Yetty mendadak tidak bisa menggerakkan tangannya usai mem-blow rambut. Sambil menahan rasa sakit luar biasa ia tetap memaksakan berangkat kerja.
Namun nyerinya tidak bisa diajak kompromi, dan semakin parah, Ia pun menyerah dan kembali ke rumah.  “Rasa sakitnya luar biasa sekali. Telinga mendenging, sakit terasa di belakang kuping, leher, pundak, dan kepala,” kenangnya.

Hebatnya, wanita yang gemar bermain golf ini kuat menahan rasa nyeri tanpa obat penghilang rasa sakit. “Saya memang dari kecil tidak pernah minum obat. Kalau sakit paling pakai obat gosok aja,” tuturnya. Berbeda dengan kebanyakan pasien Spondilosis Cervical yang minum obat bertahun-tahun. Wanita berdarah Manado-Belanda ini berkutat dengan Spondilosis Cervical yang menyiksa. “Tuhan sayang saya, saya dipertemukan dengan tim dokter yang solid, karena itu saya segera menemukan penyembuhan dari nyeri yang luar biasa ini,” ujar Yetty.

Dengan rasa sakit yang begitu hebat, ia pun mengaku sudah siap menjalani operasi. “Saya mantap operasi setelah tim dokter dengan sangat detail menjelaskan tentang sakit yang saya derita. Saya juga melihat tanggung jawab yang sangat tinggi dari diri beliau-beliau ini,” katanya, Bagi Yetty, tanggung jawab para ahli kesehatan adalah salah satu hal terpenting. Dengan tanggung jawab, ia yakin mereka akan berusaha menyembuhkan pasien sebaik mungkin. Tiga hari setelah operasi leher di bulan Februari 2016 lalu, Yetty sudah beraktifitas seperti sedia kala. “Saya selalu berfikir positif selain berdo’a, dan berusaha berobat yang terbaik adalah kunci dari kesembuhan saya” pungkasnya.