Our Caring Team

SERING KUMAT DI DEPAN KELAS

Wajah Seperti Tersengat Listrik dan Tersayat


"Bayangkan, tiba-tiba tanpa sebab wajah ini seperti disetrum, disayat-sayat, ditusuk, dan saya tak bisa melukiskan dengan kata-kata bagaimana mende­­ritanya ketika sakit itu datang,"Suster Dominic, Penderita Trigeminal Neuralgia. Suster Dominic seolah kehabisan kata untuk menggambarkan bagaimana penderitaannya ketika mengidap sakit trigeminal neuralgia (TN). “Karena sakitnya begitu luar biasa, sampai saat ini kekhawatiran akan  kambuh  masih  sering  datang membayang,” katanya ketika berkunjung ke sekretariat Brain Spine Community beberapa waktu lalu. Suster asal Flores yang sehari-hari mengajar di SMPK Santo Yoseph Surabaya tersebut menceritakan, nyeri di seputaran gigi dirasakannya sejak tujuh tahun lalu. Karena sumber sakitnya berasal dari seputar rahang, maka ia mengira gigi sebagai penyebab sakit tersebut. “Karena itu, saya menurut saja ketika dokter gigi mencabut gigi saya,” cerita Dominic yang saat itu masih tinggal di Jakarta.

Usai dicabut, ternyata sakit tersebut tetap tidak hilang, bahkan makin lama makin hebat. Tak sembuh di satu dokter, ia mencoba ke dokter gigi lain. Ternyata, dokter yang baru juga mendiagnosa sama dengan dokter sebelumnya, sehingga melakukan pencabutan pada gigi lainnya. “Saya makin putus asa, sebab sudah tiga gigi dicabut tapi sakitnya tetap tidak hilang,” ujar Dominic yang mengaku sudah datang ke tujuh dokter gigi yang berbeda namun tak satupun yang berhasil. Karena belum juga berhasil, ia mencoba berobat ke ahli tusuk jarum. Tapi meski bagian wajah sudah diterapi dengan tusukan puluhan jarum, rasa nyeri hebatnya sama sekali tidak berkurang.

Suster yang sudah ditugaskan mengajar ke berbagai daerah di Indonesia itu tak bisa menggambarkan jika sakit TN menyerang. “Sampai saat ini pun kadang masih dihantui rasa takut. Bayangkan, tiba-tiba tanpa sebab wajah ini seperti disetrum, disayat-sayat, ditusuk, dan saya tak bisa melukiskan dengan kata-kata bagaimana menderitanya ketika sakit itu datang,” imbuhnya dengan mimik ketakutan. Datangnya nyeri hebat itu sendiri, lanjut Dominic, juga tidak tentu. Terkadang muncul di tengah malam saat ia tertidur lelap, tapi kadang saat jam pelajaran di mana ia berada di depan kelas. Karena itu, siswa yang diajar sudah terbiasa melihat dirinya meringis kesakitan. “Anak didik saya sangat pengertian, begitu tahu tiba-tiba saya memegang wajah dengan penuh kesakitan, mereka langsung diam tak bersuara,” cerita Dominic yang bingung dengan jenis sakitnya tersebut.

Karena berbagai dokter yang dijumpai tidak berhasil mengobati, ketika bertugas di Lahat, Sumatera Selatan, ia sempat minta tolong ke seorang paranormal yang oleh masyarakat setempat dipercaya ampuh mengobati sakit terutama bagi mereka yang terkena guna-guna. “Entah bagaimana caranya, setelah paranormal itu baca mantra-mantra, tiba-tiba tangan sang dukun mengusap rahang dan bersamaan itu keluar tulang ayam, silet, rambut, sembilu dan jarum,” cerita Dominic yang sekarang baru sadar jika semua itu hanya tipuan belaka karena pada kenyataannya sakitnya tak sembuh juga.

Barulah, waktu mengajar di Pa­lembang­ dua tahun lalu, suster yang lama tinggal di Yogyakarta itu akhirnya mengetahui jenis penyakit yang dideritanya. Ceritanya, ketika sakitnya sedang kumat, ia berobat ke seorang dokter ahli saraf senior yang sudah bergelar profesor. “Begitu pipi saya dipegang dengan lembut dan saya langsung berteriak kesakitan, seketika itu juga dokter langsung mengatakan bahwa saya terkena sakit TN. Saat itu sang dokter langsung menyebut nama dokter di Surabaya yang merupakan ahlinya,” cerita Dominic.
Setelah ditugaskan di Surabaya, tiga bulan lalu ia menemui dr. Sofyan dan dijelaskan dengan gamblang sebab sakitnya sekaligus bagaimana teknik penyembuhannya yang satu-satunya harus melalui jalan operasi. Akhirnya ia mengetahui bahwa penyebab sakit hebat itu adalah persentuhan antara saraf nomor lima yang merupakan saraf perasa wajah dengan pembuluh darah di daerah batang otak.

“Setelah pertemuan itu beberapa hari kemu­dian­ saya langsung dioperasi. Puji Tuhan, begitu operasi selesai, sakit yang bertahun-tahun menyiksa saya langsung hilang seketika,” kata Dominic,­ sebagai bentuk ungkapan­ terima kasih dia bertekad menjadi rela­wan­ un­tuk menyebar­kan­ informasi agar orang-orang yang se­nasib  dengan  dirinya segera bisa ditangani. Pulihnya kesehatan itu juga  membuat bahagia kawan-kawan­nya se­sama guru,­ selama­ ini mereka turut prihatin dengan kondisinya­ namun­ tidak bisa berbuat banyak  sebab  di  antara mereka tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya.