Our Caring Team

M. Sofyanto, dr., Sp.BS Bangun Jalan Puskesmas Hingga Pondok Kusta.

Pengalaman M. Sofyanto, dr., Sp.BS Selama 4 Tahun di Pulau Bawean


Melalui program Inpres, selama empat tahun Sofyan ditempatkan di pulau yang berada diantara laut Jawa dan Kalimantan tersebut. Penempatan itu tidak lepas dari suksesnya program bakti sosial yang dilakukan Ikatan Senat Mahasiswa FK se-Indonesia pada tahun 1988 dan saat itu Sofyan sebagai ketuanya.

Bekal Cangkul dan Tampar
Setelah melewati perjalanan malam selama 11 jam di geladak kapal barang, Sofyan tiba di Bawean. Tidak ada listrik, telpon, dan kondisi geografispun sulit. “Kalau ada pelayanan di gunung, saya bawa mobil ambulan juga cangkul, serta tali tampar. Kalau jalannya sulit berlumpur, saya pakai untuk menarik mobil. Kalau dipanggil ke pulau-pulau kecil, saya naik perahu kecil dan malam baru pulang ke rumah,” kenang Sofyan.

Tak cukup sampai disini, Puskesmas Sangkapura di saat musim hujan dan ombak besar, acapkali tergenang seperti kolam. Kondisi itu membuatnya berinisiatif untuk membangun jalan dari batu. “Setiap pagi subuh saya angkat batu, sejak itu Puskesmas jadi ramai, lalu saya ganti nama Puskemas menjadi Rumah Sakit Besar Sangkapura, karena saya biasa dipanggil dokter raje alias Dokter Besar, kalau bidan dipanggil dokter kecil” ceritanya. Selain pelayanan UGD, Sofyan juga biasa melakukan operasi darurat. Hanya saja, untuk kamar operasi berupa ruangan biasa yang disemprot obat nyamuk, bahkan pernah saat operasi amputasi lengan, Sofyan cukup membeli gergaji besi di toko bangunan. Semua dilakukan sendiri sekaligus membius pasien dengan obat seadanya.

Suatu kali ada ibu hamil dengan panggul sempit yang janinnya meninggal, saat itu ombak sangat besar dan tidak ada kapal ke Jawa, sudah berusaha dengan susah payah mengeluarkan janin namun masih ada bagian yang tidak berhasil dikeluarkan “Jari-jari saya sudah bengkak karena memakai gunting biasa” kisahnya, untungnya empat hari kemudian ada bantuan kapal navigasi yang bisa membawa ibu malang ini ke Surabaya, meski sudah kritis namun bisa diselamatkan.

Membangun Pondok Kusta
Setelah Puskesmas ramai, Sofyan malah tertantang untuk memberikan pelayanan di pedalaman. Seiring waktu, dia menemukan penyandang kusta yang dibuang di hutan. Jiwa muda yang masih idealis membuatnya tergerak, bersama masyarakat dia membangun Pondok Kusta, selain untuk pembinaan juga membagi obat, makanan dan susu “Tiap bulan penderita dapat susu kaleng dua kilo, yang nggak doyan saya ganti telur dan mie” katanya. Tidak hanya itu, dia juga mencarikan obat melalui yayasan yang lantas dikirim langsung dari Jepang.

“Bagi yang sembuh saya janjikan rumah di kampung, agar mereka semangat. Lalu terlaksana 12 rumah dari kerangka besi beserta perabotannya. “Saya cari bantuan untuk mewujudkan itu,” sambungnya. Edukasi juga diberikan untuk meluruskan stigma yang keliru. “Saya berkeliling ikut pengajian malam di desa-desa. Dengan slide foto saya tunjukkan bahwa mereka bisa sembuh, dan bisa berkumpul kembali bersama keluarga” katanya.

Pengalaman Tak Terlupakan
Dari situ, perhatian bermunculan, beberapa pejabat termasuk Gubernur Jatim Soelarso hingga Menteri Sosial menengok program Pondok Kusta, mereka juga melihat Rumah Sakit Besar Sangkapura. Perasaan lega, bahagia bercampur jadi satu dalam benak Sofyan, melihat perjuangannya disambut dengan baik.

Meski kini sudah menyandang spesialis bedah saraf, semangat berbagi ilmu tetap tidak terlupakan, dia berkeliling Indonesia untuk operasi bedah saraf bersama tim Comprehensive Brain & Spine Center, “Tim kami siap dipanggil operasi gratis di seluruh Indonesia” tegas Sofyan, yang baru saja pulang dari Batam untuk operasi dua orang ibu guru yang berasal dari Tanjung Pinang. Bedanya kali ini setiap berangkat dia juga bersama tim dokter anestesi, perawat dan peralatan lengkap.

Naskah : Hadi Santoso
Foto : TAUFIK E HIDAYAT